Pergerakan pada dasarnya dimulai oleh keinginan yang kuat untuk bergerak dan adanya pikiran untuk bergerak. Seperti manusia, ketika akan berjalan, berlari, atau melakukan sesuatu hal, pasti ada benak didalam hati atau pikiran yang terlintas terlebih dahulu baru kemudian anggota badan tersebut bergerak. Sehingga bisa dikatakan juga bagi manusia pikiran adalah sumber kekuatan dari pergerakan itu.
Pikiran adalah sebuah aset besar yang diberikan Allah kepada manusia. Dari pikiran inilah dapat dibedakan antara manusia dengan makhluk lain. Bahkan pikiran juga yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Pikiranlah yang akan menentukan sukses atau tidaknya seseorang. Manusia ibarat sebuah komputer dan pikiran adalah pemrogramnya. Ketika yang diprogramkan kedalam pikiran adalah hal-hal yang bernilai positif, maka akan cepat direspon oleh tindakan hal-hal yang bernilai positif dan begitupun juga sebaliknya. Contohnya, ketika seseorang berpikir bahwa hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya, maka akan langsung direspon oleh tindakan-tindakan yang akan membuat hari itu juga menjadi baik. Lain halnya ketika seseorang mengatakan hari ini adalah hari buruk, maka otomatis hari itu juga akan menjadi hari yang buruk dalam hidupnya.
Begitupun juga dalam tubuh sebuah gerakan dakwah. Pemikiran-pemikiran tentang dakwah yang mencakup semua aspek kehidupan, sangat diperlukan demi keberlangsungan gerakan dakwah kedepan. Pemikiran-pemikiran ini juga harus bersifat besar dan positif sehingga dengan begitu, ada optimisme dalam dakwah ini bahwa suatu saat Islam pasti menang dan menjadi guru peradaban dunia. Tentunya pikiran-pikiran ini harus sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah walaupun bahasannya juga menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya dan hal-hal yang bersifat kekinian. Pikiran-pikiran ini diperlukan sebagai landasan untuk menjawab berbagai tantangan yang berkembang pada era globalisasi ini. Di era sekarang ini kita tetap harus melakukan analisa-analisa tentang situasi yang terjadi sekarang maupun memprediksi kira-kira apa yang akan terjadi 10, 20 atau bahkan 100 tahun yang akan datang. Kalau kita hanya mengandalkan hasil pemikiran para ulama-ulama atau pemikir-pemikir terdahulu tanpa ada usaha untuk melakukan analisa zaman, maka dikhawatirkan dakwah tidak akan berjalan dengan efektif karena bisa jadi tantangan dakwah dahulu berbeda dengan tantangan dakwah pada zaman sekarang. Walaupun tetap kita harus memperhatikan hasil pemikiran mereka sebagai pelajaran, atau perbandingan karena pemikiran-pemikiran tersebut adalah khazanah pengetahuan islam yang harus kita lestarikan.
Para pemikir islam harus memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai disiplin ilmu untuk merumuskan strategi, sarana, maupun metode yang sesuai dengan medan dakwah yang kita hadapi. Fiqus Shiroh merupakan ilmu yang wajib dimiliki oleh para pemikir islam, karena hampir semua peristiwa yang dialami nabi juga mirip terjadi pada zaman sekarang. Fase sembunyi-sembunyi yang didalamnya ada penolakan keras, penekanan, bahkan penyiksaan terhadap umat islam, fase peperangan difensif dan ofensif, fase kemenangan dan pemerintahan. Itu semua dapat diambil pelajarannya untuk menjadi referensi bagi pemikiran sekarang.
Sehingga budaya berpikir dan menulis harus mulai diasah dan dikembangkan di kalangan para aktifis dakwah agar dakwah cepat sampai pada tempat yang kita cita-citakan.
***
No comments:
Post a Comment