Saturday, October 15, 2011

NEWTON DAN LEIBNIZ (sebuah khayalan)


London, Jum’at, 11 januari 1685
“ente dimana ton?” tiba-tiba sms muncul dilayar Hape Sir Isaac Newton.
“biasa, lagi menghayal aja niz, siapa tau dapet rumus baru.” Kata Newton membalas smsnya yang ternyata dari sahabat lamanya Gottfried Leibniz.
“ah ente, sekali-kali refreshing kek, jalan-jalan ato kemana gitu, supaya otak kita gak cepet konslet”. Leibniz membalas.

“wah, ide bagus tu heb, kemana ayo, ada ide? Mumpung ane juga belum ada inspirasi neh, belum ada ilham untuk rumus berikutnya, setelah si binomial tu ane ciptain.” Cepat-cepat Newton membalas sms, saking antusiasnya.
“gimana kalo kita ke jogja aja, kita ngobrol-ngobrol di angkringan sambil makan nasi kucing?” balas Leibniz.
“ok dah, seep, udah lama pengen ke Indonesia, siapa tau ada ide dari sana ntar.” Balas Newton.
“ok, ane tunggu di bandara ya? O ya, sekalian bawa uang yang cukup, siapa tau ntar jalan-jalan ke Malioboro kita beli batik disana.” Jawab Leibniz dengan mantap.
***
Akhirnya kedua sahabat lama itupun berangkat ke kota gudeg jogja

Yogyakarta, Senin, 14 januari 1685
[Di salah satu angkringan, dekat pogung dalangan, sebelah UGM]

“Wah, ternyata nongkrong kayak gini di angkringan enak juga ya niz”. Kata Newton memulai.
“iya, kita terlalu sibuk sama matematika di perpustakaan sih, makanya gak sempat liat-liat dunia luar kayak gini”. Sambung Leibniz dengan sedikit nyengir.
“tapi kalo dipikir-pikir, seharusnya matematika gak seharusnya Cuma ngomong di perpus aja ya? Ane sih pingin orang-orang warung, orang-orang di pasar sadar kalo dalam keseharian mereka tu gak lepas dari matematika, ya walaupun gak ngomong epsilon sama delta”. Tiba-tiba Newton teringat oleh matematika, rumus-rumus, buku-buku, dan aneka jenis pensil dan polpen  yang berada di perpustakaan pribadinya.
“Emang bener sih, tapi kalo diliat di sekitar kita, menurut sebagian besar masyarakat matematika itu kan merupakan momok menakutkan yang seolah-olah mengancam jiwa seseorang”. Kata Leibniz.
“Iya bener juga sih, kayaknya guru yang paling berdosa itu guru matematika ya?” celetuk Newton.
“lho, kok bisa?. Leibniz heran.
“lha iya, wong setiap hari bikin anak stress dan gak mau sekolah gara-gara matematika, apalagi kalo gurunya serem lagi, tambah stress tu anak”. Newton berkelakar.
“Hahaha… bisa aja ente ton, tapi nggak semua anak membenci matematika, malah ada yang sangat suka matematika, yaa.. bagi yang suka tantangan pastinya, mereka menganggap matematika seperti bermain game, sangat asyik untuk memecahkan teka-tekinya”. Kata Leibniz.
“Mas rokoknya sebungkus sama kopi satu”.  Sambil memesan rokok dan kopi kepada penjaga angkringan Newton menambahkan: “Ya, ane sepakat tentang itu, matematika selayaknya jangan terlalu dianggap terlalu berlebihan seperti akan menghadapi tiang gantungan untuk memulai belajarnya, biasa aja, just like a game, mind game”. Kata Newton.
“eh ton, kira-kira kalo rancangan besar kita tentang bilangan real dan limit yang kita beri nama dengan kalkulus kemarin kita bukukan, laku keras gak yah di pasaran?” Leibniz meeruskan sambil mengambil sebungkus nasi kucing dan setusuk sate telur puyuh.
“Wah, kayaknya bakal laku keras niz, soalnya menurut saya, karya kita berdua itu fenomenal banget heb, saya memprediksi ratusan tahun ke depan, penggunaan rumus turunan dan integral hasil dari limit tersebut akan sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, yaa… bisa dikatakan terapan dari matematika.” Kata Newton dengan santai sambil menyulut sebatang rokok merk “Dji Sam Soe”.
“ya, menurut ane sih juga gitu, makanya ane berharap buku kita nanti cukup dipahami lah oleh para mahasiswa dimanapun di seluruh dunia termasuk di UGM ini.” Kata Leibniz menambahkan.
“Asalkan mereka memahami konsep kalkulus ini step by step, artinya mendalami dulu dari konsep bilangan real, kemudian pemetaan, fungsi, limit, turunan, baru integral, Insya Allah, pasti mereka suka mengikuti alurnya” sambil menyeruput segelas kopi, newton menambahkan.
“Ya, intinya mereka harus benar-benar menguasai dua pilar matematika itu, aljabar dan analisis”, kata Leibniz lagi.
“eh iya, hampir lupa, kira-kira ada ide lagi gak setelah kalkulus kita terbit, mau buat konsep apa lagi?” kata Newton dengan sedikit bersemangat.
“wah, kalo masalah itu, ane juga belum nemu nih ton, masih dalam proses menghayal juga, tapi ntar lah, sambil jalan, siapa tau di jogja ini kita dapat pencerahan”. Kata Leibniz sambil mengambil satu bungkus lagi nasi kucing.
“Iya deh, tapi inget lho, kita disini untuk jalan-jalan, jangan terlalu diambil pusing lah, eh habis dari sini, langsung ke Malioboro ya, ane mau nyari celana panjang batik neh, sekalian untuk oleh-oleh orang rumah juga”. Balas Newton sambil sekaligus mengambil dua nasi kucing, satu tusuk sate telur puyuh, dan dua tusuk sate ati ampela.
“Boleh lah, ane juga mau liat-liat baju kaos jogja, siapa tau ada yang cocok”. Kata Leibniz.
Dan akhirnya mereka berdua pun melanjutkan makannya dan segera berangkat ke Malioboro.

Bersambung…

No comments: